Bab 49 Aku Tidak Bisa Beradaptasi
"Sayangnya, aku rasa perkataanmu tidak benar, dan aku justru tidak ingin menuruti nasihatmu." Dia bukan lagi anak kecil, jadi tidak perlu An Xinran dengan pura-pura mengingatkannya tentang batasan dalam pergaulan. Dia tahu bagaimana cara membawakan diri.
Oleh karena itu, dia tidak mungkin akan terjatuh ke dalam perangkap.
Melihat Gu Hua yang bersikap masa bodoh seperti itu, An Xinran mengeluarkan jurus pamungkasnya dan membawa-bawa nama Song Zhili. "Song Zhili pasti tidak tahu kalau kau berkencan secara diam-diam dengan Kak Huanchuan, kan? Jika kau tidak berusaha mengambil hatiku, apakah kau tidak takut aku akan membocorkannya?"
Kepedulian Gu Hua terhadap Song Zhili sudah menjadi rahasia umum.
Setiap kali ada hal yang melibatkan Song Zhili, Gu Hua selalu lebih cemas dibandingkan siapa pun.
Saat menyebutkan bahwa Gu Hua dan He Huanchuan berkencan secara diam-diam, hati An Xinran terasa mencelos dan tidak nyaman. Dia sebenarnya enggan mempercayai kenyataan tersebut, tetapi dia terpaksa harus percaya pada apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Aku dan He Huanchuan hanya membicarakan urusan pekerjaan di dalam ruang pribadi, sama sekali tidak ada hal lain, apalagi yang namanya kencan rahasia." Orang yang bersih tidak perlu takut bayangannya miring, Gu Hua tidak menunjukkan rasa panik sedikit pun.
Meminjam perkataan He Huanchuan, dia melanjutkan kepada An Xinran, "Jika kau suka mengadu, silakan saja."
Kalimat yang familier, ditambah dengan nada bicara yang familier, terngiang di telinga An Xinran bagaikan sedannya petasan yang tersulut, membuat telinganya berdengung hebat.
Dia hampir tidak sanggup menahan diri dan hampir pingsan di atas tanah.
Untungnya, sisa tenaga yang dikumpulkannya secara paksa belum sepenuhnya hilang.
Dia berusaha berdiri dengan teguh, baru kemudian bisa meredakan rasa pusing yang melanda.
Kata-kata yang pernah diucapkan He Huanchuan bergema kembali di telinganya.
Perlahan-lahan, bayangan itu berpadu dengan wajah kecil Gu Hua yang elok dan memesona.
Keduanya jelas memiliki perangai yang berbeda, namun intonasi saat mereka berbicara persis sama.
Sama-sama menyindir.
Seketika itu juga, keinginan An Xinran untuk mengadu lenyap seketika.
Rasanya, jika dia benar-benar mengadu, dia akan menjadi seorang pengecut yang hina.
Seseorang yang hanya bisa menggunakan trik-trik picik dan murahan.
Begitu Gu Hua kembali ke ruang pribadi, Wen Manchu langsung menatapnya.
Melihat Gu Hua tidak menunjukkan keanehan apa pun, dia akhirnya merasa lega.
"Kau tidak boleh menakut-nakutiku seperti itu lagi," kata Wen Manchu. Jika hal ini terjadi beberapa kali lagi, apakah dia masih bisa bertahan hidup.
"Aku tidak menakut-nakutimu, aku baik-baik saja." Gu Hua telah merias ulang wajahnya di toilet tadi, membuat rona wajahnya tampak kemerahan.
Sebenarnya, dia memang baik-baik saja.
Setelah merias ulang wajahnya, dia terlihat semakin memukau.
He Huanchuan tidak mengetahui akar permasalahan dari awal hingga akhir, jadi dia melirik ke arah Qi Yunzhou.
Sebagai orang kepercayaan He Huanchuan, Qi Yunzhou tentu memahami arti dari tatapan tersebut.
Dia duduk di samping He Huanchuan, menjaga jarak tertentu darinya, lalu memalingkan kepala dan berbicara dengan suara pelan.
Setelah mengetahui seluruh kejadian dari awal hingga akhir, tatapan mata He Huanchuan yang dalam kembali jatuh pada Gu Hua.
Sepasang manik matanya yang legam bagaikan sumur tua ribuan tahun, permukaannya tenang tanpa riak dan tidak bergelombang sedikit pun, serta tidak dapat diukur dasarnya. Namun, secara samar-samar, di dasar sumur tua tersebut, tampak muncul aliran arus halus yang hampir tidak kasat mata.
Mengungkapkan suasana hatinya yang sedikit bergejolak.
"Jika benar-benar merasa tidak enak badan, pergilah ke rumah sakit." Jelas-jelas itu adalah kalimat lembut yang menyiratkan kepedulian dan menghangatkan hati, namun ketika diucapkan oleh He Huanchuan, kesannya langsung berubah.
Seolah-olah dia sedang memberikan perintah yang tegas kepada Gu Hua.
Ekspresi Gu Hua tidak berubah, hanya saja ada perasaan yang sulit dijelaskan di dalam hatinya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksakan diri." Jika bukan karena tahu bahwa He Huanchuan sedang mengkhawatirkannya, mendengarkan nada bicaranya yang kaku dan keras itu saja sudah pasti membuatnya marah sejak tadi.
Topik tersebut berhenti sampai di situ, dan mereka kembali membahas berbagai hal yang berkaitan dengan pekerjaan.
Ketika mereka keluar dari ruang pribadi, hari sudah semakin larut.
Matahari terbenam, senja telah tiba.
Tirai malam hampir turun.
Qi Yunzhou berinisiatif menawarkan diri untuk mengantar Wen Manchu pulang.
Sedangkan Gu Hua, dia pulang bersama He Huanchuan.
Berpikir bahwa jalurnya searah dengan Qi Yunzhou, dan lagi He Huanchuan adalah seorang pria budiman yang tidak akan berbuat macam-macam pada Gu Hua, Wen Manchu mengangguk kecil dan menyetujui usulan tersebut.
He Huanchuan juga tidak keberatan.
Sebaliknya, Gu Hua bahkan belum sempat menyuarakan pendapatnya hingga dirinya sudah berada di dalam mobil He Huanchuan.
Entah bagaimana situasinya bisa berakhir seperti ini.
Dia merasa sedikit linglung.
Setibanya di depan gerbang Kediaman Gu, Gu Hua turun dari mobil dan berpamitan kepada He Huanchuan.
Setelah mobil He Huanchuan berlalu, Gu Hua baru berbalik dan berjalan masuk ke halaman.
Namun, sebelum Gu Hua sempat mencapai pintu, jalannya sudah dicegat oleh Song Zhili.
"Siapa pria yang mengantarmu pulang tadi?" Song Zhili langsung memberondong Gu Hua dengan pertanyaan begitu muncul.
Kemunculan seseorang secara tiba-tiba dari tempat gelap itu membuat Gu Hua terkejut bukan kepalang.
Bukannya dia penakut, melainkan tindakan Song Zhili yang terlampau mendadak.
"Siapa pun dia, itu bukan urusanmu." Biasanya, jika Song Zhili bertanya, dia pasti akan menjawab dengan jujur.
Namun, situasi hari ini berbeda dari sebelumnya. Dia telah melihat banyak sisi Song Zhili yang tidak pernah diketahuinya.
Dia kembali mendapatkan pemahaman yang berbeda tentang Song Zhili.
"Kita ini sepasang kekasih, bagaimana bisa bukan urusanku?" Wajah Song Zhili tampak muram, tatapannya saat melihat Gu Hua dipenuhi dengan kecurigaan yang pekat.
"Mungkin, sebentar lagi kita tidak akan menjadi sepasang kekasih lagi," ucap Gu Hua pelan, seolah sedang menjawab pertanyaan Song Zhili, sekaligus bergumam pada dirinya sendiri.
Suaranya sangat kecil, lembut, dan terdengar samar, membuat Song Zhili tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
Namun, sesaat setelah kata-kata itu terucap, Gu Hua sendiri merasa tidak percaya.
Selama bertahun-tahun ini, baru kali ini terlintas di benaknya pikiran untuk berpisah.
Dulu, betapapun pahit dan sulitnya keadaan, dia tetap bertahan dan selalu setia menemani pria itu dengan sepenuh hati, tanpa pernah sedikit pun berniat untuk berpisah darinya.
Namun sekarang, pola pikirnya telah berubah.
"Suaramu terlalu pelan, aku tidak dengar dengan jelas." Song Zhili ingin Gu Hua mengulangi ucapannya karena dia tidak menangkap maksud perkataan wanita itu.
"Kalau tidak dengar, ya sudah." Tidak ada perlunya bagi dia untuk mengulanginya. Mengingat ini adalah pertama kalinya dia memikirkan tentang perpisahan, dia tentu harus mempertimbangkannya baik-baik, bukannya bertindak secara impulsif.
Agar tidak menyesal di kemudian hari.
"Jika aku tidak salah lihat barusan, pria yang mengantarmu pulang adalah seorang pria." Tertutup oleh kegelapan malam dan kaca jendela mobil yang dinaikkan, Song Zhili hanya sempat melihat profil wajah pria itu sekilas, tanpa bisa mengenali siapa orangnya.
Hanya dari sekilas pandang saja, Song Zhili tahu bahwa pria itu berasal dari kalangan berada.
"Lalu kenapa jika memang benar?" Gu Hua mengakuinya.
Lagi pula, suaminya sudah melihatnya sendiri, jadi tidak ada lagi yang perlu disangkalnya.
"Pulang terlalu larut itu tidak aman, apalagi kau pergi berdua saja dengan seorang pria, itu jauh lebih tidak aman lagi." Song Zhili merasa Gu Hua terlalu naif, bahkan tidak mempedulikan keselamatan dirinya sendiri, sehingga membuatnya harus ikut khawatir.
"Seharusnya kau membiarkanku menjemputmu."
Wanita itu memiliki ponsel, meneleponnya bukanlah hal yang merepotkan.
"Grup Song membutuhkanmu, fokus bekerja adalah hal yang benar untuk dilakukan," ucap Gu Hua tanpa menyertakan emosi apa pun di wajahnya.
"Kau juga butuh aku, aku tidak boleh hanya tahu bekerja saja." Song Zhili mencengkeram pergelangan tangan Gu Hua yang putih bersih dengan erat, enggan melepaskannya.
Gu Hua merasakan sakit dan mencoba melepaskan tangannya.
Namun tidak berhasil terlepas.
"Dunia ini akan tetap berputar siapapun yang tidak ada, aku akan perlahan-lahan terbiasa." Terbiasa dengan hari-hari tanpa Song Zhili, dari yang awalnya merasa asing hingga akhirnya menjadi terbiasa.
Song Zhili tidak menangkap makna tersirat dari perkataan Gu Hua. "Belakangan ini kau tidak menungguku pulang kerja, hari-hari biasa juga tidak pernah berinisiatif mencariku, dan terkadang saat aku datang menemuimu, aku bahkan tidak bisa melihat sosokmu. Kau mungkin bisa terbiasa, tapi aku tidak bisa."