Bab 17 Tidak Pernah Terpikir untuk Menolaknya
Saat Su Yining tiba di departemen desain, sisa air matanya belum sepenuhnya kering. Sensasi lembap dan lengket di wajahnya membuat Su Yining merasa sangat tidak nyaman. Ia duduk di kursi kerjanya, lalu mengeluarkan cermin kecil dari tas kecil yang dibawanya. Begitu melihat sosok di dalam cermin, Su Yining terperanjat.
Karena tidak tidur nyenyak semalam, kantung matanya terlihat jelas dan wajahnya tampak pucat tanpa gairah. Oleh karena itu, sesuai saran Wen Manchu, ia telah merias wajahnya dengan gaya yang tebal dan elegan. Namun, setelah ia menangis, riasannya pun luntur. Akibatnya, tangisannya bukannya terlihat anggun seperti bunga pir yang disirami hujan, melainkan tampak agak menyeramkan. Ini jauh dari efek yang ia harapkan. Pantas saja Wen Manchu berkata tangisannya terlihat jelek, dan pantas saja Song Zhili bersikap acuh tak acuh saat melihatnya menangis. Su Yining merasa strateginya gagal.
Setelah memperbaiki riasannya, ia melirik profil wajah Wen Manchu yang cantik. Meskipun saat itu Wen Manchu sedang berekspresi datar, Su Yining merasa yakin bahwa wanita itu pasti sedang menertawakannya di dalam hati. Su Yining membuang muka dengan perasaan gelisah.
Sementara itu, Song Zhili yang keluar dari lift tidak lagi menggandeng tangan Gu Hua. Entah mengapa, Gu Hua sempat merasakan kekecewaan sesaat. Namun, Song Zhili pernah menjelaskan bahwa meskipun mereka sepasang kekasih, di dalam perusahaan Song, keduanya tidak boleh terlalu mesra atau manja demi menjaga profesionalitas. Meski sempat ingin memprotes, Gu Hua akhirnya memilih untuk mengikuti keinginan Song Zhili.
"Ada urusan apa sampai harus memanggilku ke kantor?" Jika itu urusan sepele, tidak perlu terburu-buru; Song Zhili bisa saja mengatakannya setelah jam kerja selesai. Hanya untuk urusan seriuslah Song Zhili akan memanggilnya ke kantor untuk berdiskusi.
Song Zhili membuka laci dan mengeluarkan sebuah dokumen. "Ini kontrak yang baru saja disusun, coba kau periksa apakah ada masalah."
Gu Hua menerima dokumen itu dan memeriksanya dengan teliti. Kurang dari sepuluh menit, ia telah selesai membaca semuanya. "Tidak ada masalah. Kerja sama antara Grup Song dan Grup He adalah langkah yang saling menguntungkan." Proyek bernilai puluhan juta ini tidak memiliki celah dalam kontraknya.
Gu Hua mengambil jurusan desain di universitas dengan jurusan pendamping hukum, sehingga ia mampu memahami isi kontrak dengan baik. Song Zhili sangat mempercayainya; untuk setiap proyek besar Grup Song, ia selalu meminta Gu Hua untuk memeriksanya.
"Namun, Grup He belum tentu mau berinvestasi." Proyek ini dijalankan oleh Grup Song dan membutuhkan suntikan dana besar di awal. Song Zhili ingin membawa Grup Song ke level yang lebih tinggi, sehingga ia harus mencari mitra yang kuat secara finansial. Grup He adalah target yang ia incar.
"Memang sulit untuk membuat pihak Grup He setuju memberikan suntikan dana," ujar Gu Hua setelah mempertimbangkan berbagai hal. Proyek bernilai puluhan juta mungkin sangat penting bagi Grup Song, tetapi belum tentu bagi Grup He. Grup He adalah entitas yang sulit dijangkau. Setiap tahun ada tak terhitung banyaknya proyek bernilai puluhan hingga ratusan juta, dan perusahaan-perusahaan di Kota Rong berebut untuk bekerja sama dengan mereka. Namun, yang berhasil bekerja sama dengan Grup He tidaklah banyak. Terlebih lagi, Grup He sudah memiliki mitra tetap. Oleh karena itu, agar Grup He mau memberikan kesempatan, kontrak yang ia pegang harus memiliki nilai tawar yang sangat menonjol.
"Aku ingin membuktikan diriku dan butuh pengakuan dari para pemegang saham. Saat ini, proyek inilah batu ujian terbaik," kata Song Zhili. Ia ingin semua orang melihat kemampuannya, dan itu harus dibuktikan dengan hasil nyata. Jika berhasil menggandeng Grup He, ia yakin semua orang akan memandangnya dengan rasa kagum.
"Meskipun sulit membuat Grup He menandatangani kontrak, tidak ada salahnya mencoba." Mencoba tidak ada ruginya, siapa tahu berhasil. Gu Hua tidak takut pada kesulitan maupun kegagalan.
"Menurutmu, siapa yang sebaiknya diutus ke Grup He untuk membicarakan kerja sama ini?" tanya Song Zhili meminta pendapat Gu Hua.
Gu Hua berpikir sejenak lalu berkata, "Di Grup Song, ada banyak orang cakap yang berpengalaman dalam negosiasi kerja sama, dan ada beberapa eksekutif yang punya waktu untuk memantau proyek ini. Kau bisa berdiskusi dengan mereka dan melihat pendapat mereka." Untuk pergi ke Grup He, pemilihan orang adalah kunci. Posisinya tidak boleh terlalu rendah agar tidak dianggap remeh oleh Grup He, yang justru akan menurunkan peluang keberhasilan negosiasi.
"Sebenarnya, kau sangat cocok," ujar Song Zhili setelah melihat Gu Hua tidak memasukkan dirinya sendiri ke dalam daftar pertimbangan.
"Aku?" Gu Hua tertegun. Ia tidak terlalu terkejut, hanya sedikit bingung. Gu Hua telah berkecimpung di dunia kerja selama bertahun-tahun dan sering melakukan negosiasi dengan berbagai perusahaan besar; ia memang memiliki pengalaman di bidang ini dan mampu tetap tenang di acara-acara penting.
"Ya, kau yang pergi ke Grup He untuk membicarakan kerja sama ini." Ini adalah keputusan yang sudah dipertimbangkan matang-matang oleh Song Zhili. Ia sempat merasa bimbang, namun ego pribadinya akhirnya menang. "Aku yakin dengan kemampuanmu, kau pasti bisa membuat Grup He mau berinvestasi."
"Karena kau sudah memutuskan, untuk apa bertanya padaku?" Gu Hua mengambil gelas sekali pakai dari meja dan mengisinya dengan air hangat dari dispenser.
"Aku ingin tahu apakah kau bersedia. Jika kau menolak, tidak masalah, aku bisa mencari orang lain," kata Song Zhili dengan lembut.
Gu Hua tidak berniat menolak Song Zhili. Sekalipun negosiasi kontrak tidak berhasil, ia harus mencobanya terlebih dahulu. Saat itu terjadi, mengganti orang pun belum terlambat. "Karena kau sudah mengatur semuanya, aku tentu akan mematuhinya. Hanya saja, aku tidak bisa menjamin seratus persen kerja sama antara Grup Song dan Grup He akan terwujud." Gu Hua tidak berani menjanjikan hal yang pasti, sehingga ia memberikan ruang untuk dirinya sendiri.
"Berusahalah semampumu, sisanya serahkan padaku. Jangan merasa terbebani," kata Song Zhili. Ia berharap Gu Hua membawa kabar baik, namun ada hal-hal yang tidak bisa ia paksakan. "Jika Grup He tidak mau bekerja sama, itu bukan masalahmu, melainkan karena Grup Song belum cukup kuat. Aku tidak akan menyalahkanmu."
Song Zhili mengatakan hal itu agar Gu Hua merasa tenang. Selain itu, ia memiliki firasat bahwa Gu Hua pasti bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik.
"Demi menjaga kepercayaanmu, aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan berusaha agar kerja sama antara Grup Song dan Grup He segera tercapai," ujar Gu Hua sambil menunduk dan meminum airnya. Ia bertekad untuk membantu Song Zhili mendapatkan investasi dari Grup He agar posisi Song Zhili di perusahaan semakin kokoh.
Song Zhili menatap Gu Hua dengan lembut; ketegangan yang dirasakannya selama berhari-hari perlahan memudar. "Aku sudah membuat janji dengan penanggung jawab Grup He. Besok sore, bawalah kontrak yang sudah disiapkan itu ke Grup He."
Gu Hua mengiyakan. Setelah meminum airnya dan berbincang sedikit lebih intim dengan Song Zhili, ia membawa dokumen tersebut dan meninggalkan kantor direktur utama.
Sesampainya Gu Hua di departemen desain, belum sempat ia duduk dengan nyaman di kursi kerjanya, Su Yining menghampirinya dan berbisik, "Aku sudah melaporkan keburukanmu, mengatakan bahwa kau menindasku. Apakah Kak Zhili memarahimu di kantor tadi? Apakah dia menyuruhmu untuk bertindak lebih sopan?"
Hal itu bukannya tidak mungkin terjadi. Meskipun Song Zhili tidak bersikap baik pada Su Yining dan membuatnya kecewa, ia masih menyimpan secercah harapan. Mungkin saja Song Zhili hanya menjaga gengsi dan mempertimbangkan status Gu Hua sebagai pacarnya, sehingga ia tidak enak untuk memarahi Gu Hua secara langsung. Pasti di belakang layar, Song Zhili akan mengkritik tindakan Gu Hua.