Bab 010: Jangan Meremehkan Pemuda yang Miskin
Mendengar wali kelas memanggil namanya, Zhang Nu langsung berdiri dan melangkah cepat menuju podium. Langkahnya begitu ringan, hati dipenuhi suka cita yang sulit disembunyikan. Selama tiga tahun, inilah pertama kali—dan mungkin juga terakhir kalinya—ia mendapat kesempatan dua kali undian kartu. Zhang Nu sangat menyadari, setelah Dunia Kecil Alam Dewa miliknya hancur, pada ujian simulasi terakhir nanti, meski ia memiliki keistimewaan, mustahil baginya untuk masuk daftar seratus besar dalam satu bulan ke depan.
Walau pada ujian simulasi terakhir ia tak lagi berkesempatan mengundi kartu, itu tak mengurangi kebahagiaan yang terpancar di wajahnya saat pertama kali merasakan hasil jerih payahnya. Di tengah perjalanan, Liu Fan tiba-tiba menyodorkan kaki kanan ke depan, tepat di hadapan Zhang Nu, membuat tumitnya tersandung. Seketika ia nyaris jatuh.
Zhang Nu menstabilkan tubuh, menoleh ke arah Liu Fan dengan curiga dalam hati, “Apa yang diinginkan orang ini? Ingin membuatku jatuh dan mempermalukanku?” Liu Fan tengah duduk menyamping, dan ketika Zhang Nu menatap penuh tanya, ia sama sekali tidak menarik kakinya, malah memperlihatkan ekspresi menyesal lalu berkata, “Lihat apa? Kalau saja kamu tidak membakar gudang makananku di ujian praktik, seharusnya akulah yang undi dua kartu kali ini.”
Ucapan Liu Fan langsung membuat Zhang Nu yakin, “Orang ini benar-benar sengaja ingin menjatuhkanku!” Zhang Nu mengangkat alis, lalu berkata, “Dalam ujian praktik, semua peserta adalah lawan. Kalau kamu tidak menempatkan pasukan untuk menjaga gudang makananmu dan dibakar pengikutku, itu salahmu sendiri.”
Mendengar itu, para siswa yang semula tak paham situasi langsung menatap Liu Fan dengan pandangan meremehkan. Dalam ujian praktik ke-2, semua memang saling bersaing menguasai wilayah dan sumber daya. Liu Fan yang merasakan tatapan sinis dari banyak teman sekelasnya menjadi gusar, “Zhang Nu, kau…”
“Hmph.” Zhang Nu mendengus dingin, menandakan ketidakpuasan, lalu tak lagi peduli pada Liu Fan dan berbalik hendak ke podium. Namun, Liu Fan yang merasa dipermalukan oleh ucapan barusan, menahan emosi dan mengumpat lirih pada punggung Zhang Nu, “Pengemis, lebay sekali, pantas saja yatim piatu sejak kecil. Setiap tahun aku dapat empat kartu sumber daya kecil lebih banyak dari kalian pun tak pernah segembira itu. Kalian semua miskin, sampah, tak pantas dihargai. Kalau saja gudang makanku tidak dibakar sejak awal, aku tidak akan seterpuruk itu di ujian praktik, kesal sekali.”
Meski suara Liu Fan kecil, seluruh kelas yang notabene makhluk dewa, dapat mendengarnya dengan jelas. Sontak, semua mata tertuju padanya. Beberapa teman yang juga berasal dari keluarga kurang mampu menatap tajam dan bertanya, “Apa maksudmu, Liu Fan? Siapa yang kau hina sebagai miskin?” “Jangan meremehkan kami.” “Liu Fan, kamu memang tiap tahun dapat empat kartu sumber daya kecil lebih banyak, dulu juga siswa unggulan, tapi sekarang cuma siswa baik-baik saja, bahkan sering tidak masuk seratus besar, kan?” “Dasar sampah.”
Zhang Nu mengerutkan dahi, mengepalkan tangan erat-erat, teringat pada orang tuanya yang hilang. Kegembiraan karena mendapat dua kartu sumber daya langsung lenyap tanpa jejak. Ia berhenti di tempat, berbalik menatap Liu Fan yang kini jadi pusat perhatian dan berkata pelan, “Liu Fan. Memang aku miskin. Banyak teman di kelas ini juga tak dapat sumber daya sebanyak kamu yang punya orang tua dua Dewa Baru. Tapi pernah dengar pepatah ini?”
Di bawah tatapan Zhang Nu dan seluruh kelas, Liu Fan merasa tertekan lalu tergagap, “Pe… pepatah apa?”
“Kemiskinan bukan untuk selamanya. Selama tiga tahun ini, kamu selalu meremehkan teman-teman kelas, tapi coba bayangkan, kalau mereka punya sumber daya sepertimu, siapa yang tidak akan berkembang lebih baik? Dan dengar, aku bisa mengalahkanmu satu poin di ujian kedua, di ujian ketiga pun aku pasti bisa.”
Nada suara Zhang Nu tenang, namun maknanya menimbulkan resonansi di hati semua orang yang mendengar: meski miskin, tapi jiwa tetap kuat dan tak gentar. Seketika, kelas hening, lalu suara tepuk tangan bergema.
“Bagus sekali, Zhang Nu!”
“Zhang Nu, aku yakin kamu bisa mengalahkan Liu Fan lagi di ujian ketiga!”
“Kamu panutanku sekarang, Zhang Nu. Tiga puluh tahun roda hidup berputar, jangan remehkan pemuda miskin!”
“Hebat, demi ucapanmu barusan, nanti kalau aku dapat kartu hewan dan kamu dapat kartu benih, pasti kutukar denganmu!”
“Aku dukung kamu, Zhang Nu!”
“Aku kasih tahu, Zhang Nu pasti menang kali ini. Ujian kedua kemarin, satu-satunya pengikut Liu Fan yang punya bakat penguasa juga terluka parah di dunia kecil yang tersesat, hampir tak bertahan lagi!”
“Ha-ha, pantas saja!”
Di tengah semangat teman-teman, seorang siswa yang tidak paham sama sekali bertanya pada teman sebangkunya, si gendut Zhang Suxi, “Kalian ngomongin apa sih? Aku nggak ngerti.”
Zhang Suxi berbisik, “Nggak perlu paham, yang penting dukung Zhang Nu, jatuhkan Liu Fan.”
“Oh, ngerti.” Si siswa itu pun langsung berteriak, “Zhang Nu keren banget!”
Di atas podium, Li Feifei, wali kelas yang sedari tadi mengernyit, matanya kini berkilat mendengar semangat para siswa. Dunia Dewa milik Zhang Nu sudah hancur begitu parah, tapi ia masih mampu menjaga ketenangan. Kelak… pasti ia akan mencuat di atas teman-teman sebayanya, lebih dulu membentuk Inti Dewa. Hanya saja, sampai sejauh mana, Li Feifei pun kini mulai menaruh harapan pada Zhang Nu.
Sedangkan Liu Fan, ia hanya bisa menghela napas panjang. Anak ini memang dimanjakan orang tua dan kakek neneknya. Sejak awal SMA selalu meremehkan teman sekelas, sekarang malah semakin menjadi-jadi. Sepertinya orang tuanya harus dipanggil ke sekolah. Memikirkan itu, kepala Li Feifei langsung pening. Sudah jadi pepatah, bagaimana orang tua, begitulah anaknya.
Di bawah podium, Zhang Nu merasa jauh lebih lega setelah mengungkapkan isi hatinya. Ia tak lagi mempedulikan Liu Fan, melangkah cepat naik ke atas podium. Kini, ia benar-benar tak sabar ingin segera mengundi kartu sumber daya kecil untuk memperkuat Alam Dewa miliknya.
Li Feifei melihat Zhang Nu mendekat, suaranya kini lebih lembut, “Dua kali undian kartu.”
“Ya.” Zhang Nu mengangguk, lalu memasukkan tangan ke dalam lubang pada kotak elektronik di atas podium.
Dalam kesadarannya, muncullah sebuah ruang bawah alam dewa. Di ruangan itu, melayang tak terhitung banyaknya kartu berwarna-warni, setiap kartu tertutup mozaik yang membuatnya mustahil dikenali.
Tiba-tiba, beberapa kartu yang melayang di antara pandangan Zhang Nu berkedip lalu berubah menjadi cahaya putih dan menghilang. Zhang Nu tetap tenang, karena tak ada yang aneh dari proses itu.
Di sekelilingnya, terdapat ruang lipat tak kasat mata dengan banyak kesadaran siswa SMA lain. Mereka semua, seperti Zhang Nu, sedang melakukan undian kartu bulanan.
Setiap bulan, di bawah pengawasan dan distribusi Asosiasi Pendidikan Menuju Kedewaan Dunia, undian ini sepenuhnya adil, acak, dan bergantung pada keberuntungan. Semua siswa SMA di dunia mengundi kartu secara serempak di ruang bawah alam dewa ini, sehingga tidak ada perlakuan khusus pada negara, wilayah, atau sekolah mana pun, dan masalah distribusi sumber daya secara tidak adil pun tak pernah terjadi.
Mengenai sumber daya yang tersegel dalam kartu pilihan siswa, sebelum dipilih, hanya sistem pusat Asosiasi Pendidikan Menuju Kedewaan Dunia, atau dewa utama yang bisa mengetahuinya melalui kekuatan ilahi. Bahkan kepala sekolah yang sudah mencapai tingkat Dewa Sejati, atau ketua asosiasi cabang di Kota Shenyang, tak akan tahu, apalagi bisa membantu.
Namun Zhang Nu yakin, semua kartu di dalamnya hanyalah kartu sumber daya kecil. Sebab, para siswa SMA yang belum menjadi setengah dewa, dunia kecil mereka masih rapuh dan takkan sanggup menanggung kekuatan serta hukum ilahi yang terkandung dalam kartu medium atau lebih besar. Hasil akhirnya hanya akan membawa kehancuran bagi dunia kecil mereka.
Kesadaran Zhang Nu berubah menjadi tangan raksasa, lalu ia menunjuk satu kartu hitam dan satu kartu merah. Kedua kartu itu langsung berkedip cahaya putih dan menghilang dari ruang bawah alam dewa, sementara kesadaran Zhang Nu pun langsung “dikeluarkan” dari sana oleh aturan ruang.
Begitu keluar, di tangan Zhang Nu yang masih berada dalam kotak elektronik, muncul satu kartu kecil berwarna merah dan satu kartu berwarna hitam.
Melihat kartu merah pertama, Zhang Nu sempat tertegun, hampir ingin memuntahkan darah. Itu adalah kartu benih jagung hasil tinggi, yang bulan lalu juga ia dapatkan. Sekarang dapat lagi. “Jia Liang, kau benar-benar pembawa sial, semoga nanti kau dapat kartu hewan liar, kalau tidak, kartu ini akan kusimpan sampai bulan depan,” gumamnya kesal dalam hati.
Liu Fan yang terus mengamati Zhang Nu, ketika melihat sebuah kartu benih di tangan Zhang Nu, langsung tertawa terbahak, “Kartu benih lagi! Seperti bulan lalu, juga jagung, haha, memang pantas!”
Ucapan itu membuat banyak orang jengkel, tapi tawa Liu Fan tak bertahan lama.
“Kartu kawanan kuda liar!” Zhang Nu menatap tak percaya pada kartu kedua di tangannya. Di antara kartu sumber daya kecil, kartu kawanan kuda liar adalah yang paling dicari. Sebab, di antara semua kartu hewan, kuda liar paling cocok dijadikan kuda perang.
Namun kartu kawanan kuda liar sangat jarang didapat, harganya pun melambung tinggi. Sebab siapa pun yang mendapatkannya, bangsa cerdas tingkat tiga miliknya bisa langsung mengembangkan pasukan berkuda. Dan satu pasukan kavaleri kecil di medan ujian praktik, seringkali dapat menghasilkan daya tempur melampaui level tiga.
Du Jiang yang melihat kartu itu langsung berdiri dengan antusias dan bertanya, “Zhang Nu, kartu kawanan kuda liar itu sangat penting untuk perkembangan bangsaku, apakah aku boleh menukarnya dengan lima kartu yang baru saja aku dapat?”
Zhang Nu menatap kartu di tangannya, di satu sisi ada lima kartu hewan, di sisi lain ada calon pasukan kavaleri masa depan. Ia sedikit ragu, “Lima kartu ditukar satu?”
“Betul!” Du Jiang buru-buru mengeluarkan lima kartu yang ia dapatkan, matanya penuh harap.