Bab 39: Kalau orang tidak tahu, mereka pasti mengira kau kekasih Fang Li
Gu Xingzhi mengerutkan kening saat melihat kepalan tangan yang melayang ke arahnya.
Hanya dalam sekejap, ia telah mengambil keputusan. Tubuhnya bergerak, memiringkan kepala sedikit ke samping.
Tinju yang seharusnya mendarat telak di wajahnya itu pun meleset dari sasaran semula, meski tetap saja meninggalkan luka memar kebiruan di sudut bibirnya.
Paman Li, yang duduk di kursi pengemudi, hendak turun, namun segera mengurungkan niatnya saat melihat isyarat tangan dari Gu Xingzhi.
Gu Xingzhi mengangkat pandangan ke arah pemuda di hadapannya.
Pria itu berdiri di tengah malam yang dingin, dadanya naik-turun dengan napas yang memburu, berubah menjadi kabut putih di tengah cuaca yang membeku.
Setelan jas putih yang dikenakannya justru semakin menonjolkan aura elegan dan ketampanan alaminya.
Aroma alkohol masih melekat pada tubuhnya, jelas sekali ia datang terburu-buru dari sebuah acara jamuan bisnis.
Itu adalah Song Zinian.
Entah mengapa, pria itu memberinya kesan familiar yang ganjil.
Jakun Song Zinian bergerak, urat-urat di pelipisnya menonjol. "Gu Xingzhi, inikah caramu memperlakukan Fang Li?"
Malam ini ia menghadiri jamuan bisnis dan sibuk melayani tamu, namun tak disangka ia mendengar kabar bahwa Direktur Long dari Grup Longfei tengah makan bersama orang-orang dari Grup Gu dan Grup Meng.
Ia segera meraih ponselnya, melihat pesan dari Fang Li, dan bergegas datang ke sini.
"Tuan Muda Song, atas dasar apa Anda menanyakan hal ini?"
Tatapan mata Gu Xingzhi datar. Ia memandang sikap Song Zinian yang datang untuk menuntut pertanggungjawaban itu tanpa sedikit pun perubahan emosi.
Ia mengangkat tangan, menyeka sudut bibirnya dengan sapu tangan. Gerakannya tenang dan santai, seolah-olah orang yang baru saja dipukul oleh Song Zinian bukanlah dirinya.
Song Zinian menjawab, "Sebagai teman Fang Li."
Gu Xingzhi mendengus pelan, sebuah tawa kecil lolos dari tenggorokannya. "Jika orang lain tidak tahu, mereka pasti mengira kau adalah kekasih Fang Li."
Song Zinian tidak mau kalah, ia langsung membalas, "Apakah Grup Gu sudah jatuh sedemikian rupa hingga harus mengandalkan praktik kotor karyawannya untuk berbisnis?"
"Itu urusan internal Grup Gu. Fang Li adalah bagian dari keluarga Gu, bukan urusan orang luar untuk ikut campur."
Sindiran itu jelas bermaksud mengatakan bahwa Song Zinian-lah orang luar tersebut.
Melihat Gu Xingzhi berbalik hendak masuk ke dalam mobil, Song Zinian mengertakkan gigi.
"Aku sudah mengenal Fang Li bertahun-tahun, hubungan kami jauh lebih akrab daripada hubungan kalian. Gu Xingzhi, apakah kau benar-benar tahu apa yang diinginkan Fang Li? Kau akan segera bertunangan, mengapa tidak membiarkannya pergi? Menahannya di Grup Gu hanyalah sebuah siksaan baginya."
Mendengar ucapan itu, langkah Gu Xingzhi benar-benar terhenti.
Wajahnya menggelap, ia menatap tajam ke arah Song Zinian. "Apa kau tahu apa hubungan kami sebenarnya? Lebih akrab daripada hubungan aku dan dia?"
Untuk pertanyaan-pertanyaan lain, ia sama sekali tidak menggubrisnya, hanya terpaku pada kalimat tersebut.
Fang Li yang baru saja sadar mendengar percakapan keduanya dari luar mobil.
Ia bergegas bangun, turun dari mobil, dan berdiri di antara mereka berdua. "Zinian, kau datang. Aku tidak apa-apa."
Song Zinian menatap memar di dahi Fang Li serta pipinya yang kemerahan dan bengkak.
Rasa bersalah seketika menyelimutinya.
"Maafkan aku, andai saja aku melihat ponselku lebih cepat dan segera datang. Apakah kau sangat ketakutan? Biar aku yang mengantarmu pulang."
Gu Xingzhi yang mendengar ucapan itu menatap Fang Li dengan tatapan yang meredup.
Fang Li hendak mengikuti Song Zinian pergi, namun dicegat oleh Gu Xingzhi.
"Lakukan visum luka terlebih dahulu."
...
Di rumah sakit.
Begitu selesai menangani lukanya, Fang Li langsung diminta untuk memberikan keterangan oleh polisi.
Seorang polisi wanita memberinya segelas air hangat dan menepuk punggungnya dengan lembut untuk menenangkan. "Tidak apa-apa, ceritakanlah pelan-pelan."
Kehangatan air yang terasa menembus gelas kaca tebal itu menjalar hingga ke ujung jarinya, uap air yang lembap membumbung naik, ditemani suara lembut polisi yang menenangkannya.
Pada saat itu, Fang Li tiba-tiba merasa lampu di ruangan ini terlalu menyilaukan hingga matanya terasa perih.
Setelah selesai memberikan keterangan, Fang Li hendak naik ke mobil Song Zinian.
Ia menoleh dan melihat Gu Xingzhi berdiri di bawah lampu jalan.
Pria itu menatapnya dengan ekspresi dingin, memar di sudut bibirnya masih belum diobati.
Pandangan Fang Li tertuju pada memar tersebut.
Ia menoleh ke arah Song Zinian, bertanya dengan ragu, "Apakah ini ulahmu?"