Bab 34: Lu Beichen, kau sungguh hebat
"Kenapa tidak tidur lebih lama lagi?" Lu Beichen menunduk melihat jam. Baru lewat pukul tujuh, masih terlalu pagi bagi gadis kecil yang hobi bermalas-malasan itu.
Wang Anran merasa semakin kesal, dia mengerucutkan bibirnya. "Ibu bilang kau akan datang, jadi dia memaksaku bangun dari tempat tidur bahkan sebelum hari benar-benar terang."
Lu Beichen terdiam.
Itu salahnya.
"Istirahatlah dulu. Aku punya waktu sepanjang hari ini, tidak perlu terburu-buru."
Wang Anran menggeleng. "Tidak mau. Kalau aku meninggalkanmu sendirian untuk tidur, Ibu pasti akan mengomel lagi."
Lu Beichen berpikir sejenak. "Kalau begitu, bertahanlah sebentar lagi. Kita tidur setelah sampai di rumahku." Dia menyunggingkan senyum tipis. "Tenang saja, Ibuku tidak akan mengomel."
Wang Anran mengangguk dengan pandangan kabur. Saat berbalik untuk masuk ke dalam rumah, dia tidak memperhatikan langkahnya dan tersandung batu bata yang menonjol di jalan hingga terhuyung.
"Hati-hati." Lu Beichen dengan sigap menangkap tubuhnya.
Wang Anran berdiri dengan limbung, lalu mengucapkan terima kasih dengan malu-malu. Dia menunduk melihat penyebabnya—sebuah batu bata. "Siapa yang meletakkan benda ini di jalan?"
Dia membungkuk hendak memindahkan benda yang menghalangi jalan itu, namun sebuah tangan besar menghentikannya.
"Biar aku saja." Lu Beichen memungut batu bata itu dan menatapnya. "Taruh di mana?"
Wang Anran menyipitkan mata, menunjuk ke arah pot bunga di samping tembok halaman dengan acuh tak acuh. "Buang saja di sana."
Lu Beichen meletakkan batu itu dengan rapi sesuai perintah. Setelah kembali ke sisi Wang Anran, dia menyodorkan lengannya. "Gunakan ini sebagai sandaran."
Melihat mata gadis kecil itu yang hampir terpejam, dia khawatir gadis itu akan menabrak sesuatu lagi.
Kepala Wang Anran terasa berat, dia tidak sungkan lagi dan menyandarkan tangannya di lengan Lu Beichen, membiarkan pria itu menuntunnya masuk.
Sesampainya di ruang tamu, Wang Anran segera memejamkan mata dan meringkuk di atas sofa untuk beristirahat.
Pei Shufang yang sedang membereskan dapur menjulurkan kepalanya saat mendengar suara. "Xiao Lu sudah datang? Sudah sarapan?"
Lu Beichen menjawab, "Sudah, Bu."
Pei Shufang mengangguk, lalu menatap putrinya. "Ranran, buatkan minum untuk Xiao Lu."
Wang Anran bergumam menyanggupi namun terlalu malas untuk bergerak. "Lu Beichen, teko dan gelasnya ada di sana, buat sendiri saja ya."
"Anak ini," tegur Pei Shufang sambil melirik putrinya. Karena tidak bisa mengandalkan anaknya, dia mencuci tangan dan bersiap menuangkan air sendiri untuk Lu Beichen.
Melihat hal itu, Lu Beichen segera mencegahnya. "Bu, lanjutkan saja pekerjaan Ibu. Tidak usah repot, biar saya sendiri."
"Baiklah kalau begitu." Pei Shufang tidak sungkan dan menyerahkan teko itu padanya. "Xiao Lu, duduklah sebentar. Ayahmu sudah keluar sejak pagi untuk membelikan beberapa barang untukmu dan Ranran. Ibu belum selesai membereskan semuanya, jadi tidak bisa menemani dulu."
Lu Beichen menjawab, "Baik, Bu. Saya bantu ya?"
"Tidak perlu, duduk saja berdua dengan Ranran." Pei Shufang pun kembali ke dapur.
Lu Beichen tidak mendebat lagi. Dia tidak merasa haus, jadi dia menaruh kembali teko itu dan duduk di sofa.
Dalam sekejap mata, gadis kecil di sofa itu sudah tertidur. Tubuhnya yang mungil meringkuk di atas sofa, tampak manis dan menggemaskan seperti boneka keramik.
Lu Beichen menatapnya selama beberapa detik dengan tatapan kosong. Saat hendak memalingkan muka, gadis itu tiba-tiba berbalik. Keliman gaunnya ikut tersingkap, memperlihatkan kaki yang halus dan putih.
Di atas latar belakang sofa berwarna hitam, warna putih itu tampak begitu menyilaukan.
Tenggorokannya bergerak tanpa sadar. Setelah ragu sejenak, dia bangkit dengan hati-hati, melangkah pelan mendekati gadis itu, lalu dengan canggung menarik kembali pakaiannya sebelum segera memalingkan pandangan.
Tangannya yang tadi menyentuh kaki gadis itu secara tidak sengaja terasa seolah masih menyisakan sensasi lembut dan dingin di ujung jarinya.
Lu Beichen hendak melangkah pergi, namun dia tidak tahan untuk menoleh sekali lagi. Gadis itu sepertinya tidur dengan gelisah; bulu matanya terus bergetar, kelopak matanya juga sedikit bergerak seolah akan terbangun setiap saat.
Pandangannya tertuju pada dahi gadis itu yang berkerut. Tangannya yang berada di sisi tubuh bergerak, ada dorongan sesaat untuk mengusap kening gadis itu hingga halus. Untungnya, hembusan angin dingin dari luar jendela membuatnya tersadar.
Pagi itu, suhu di dalam ruangan terasa agak dingin. Lu Beichen berpikir sejenak, lalu mengambil selimut tipis di sofa untuk menyelimuti gadis itu. Entah karena tindakannya yang mengganggu, gadis itu tiba-tiba membuka matanya.
Saat tatapan mereka bertemu, Lu Beichen merasa napasnya menjadi sesak, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang buruk.
Otak Wang Anran masih dalam keadaan linglung. Melihat Lu Beichen, dia memanggil tanpa sadar, "Lu Beichen!"
Suara lembut dan manja itu menyapu hati Lu Beichen, menimbulkan riak-riak di hatinya. Sepasang mata yang masih tampak mengantuk itu seolah hendak menariknya ke dalam.
Dia mengangguk dengan canggung, berusaha bersikap tenang saat berdiri dan mengangkat selimut tipis di tangannya. "Aku hanya ingin menyelimutimu."
Ada kilatan kebingungan di mata Wang Anran. "Ah...?"
Begitu suara itu berakhir, otaknya yang lamban bereaksi. Dia segera berkata, "Oh, terima kasih."
Lu Beichen menggeleng. "Sama-sama."
"Kapan Xiao Lu sampai?" Wang Guodong, yang baru saja selesai menelepon di ruang kerja lantai atas, menuruni tangga.
Lu Beichen memanggil, "Ayah," dan menjawab, "Baru saja sampai."
Wang Guodong mengangguk, berjalan ke ruang tamu, mengambil sekantong teh dari lemari, lalu membawa teko dan perangkat minum teh untuk duduk di sofa.
Lu Beichen dengan sigap mengulurkan tangan mengambil barang-barang itu. "Ayah, biar saya saja."
Wang Guodong tersenyum. "Baiklah."
Teknik menyeduh teh Lu Beichen sangat mahir, setiap gerakannya tampak alami seperti air mengalir. Tak lama kemudian, aroma teh yang lembut menguar dari teko. Dia menuangkan secangkir teh dan memberikannya kepada Wang Guodong. "Ayah, silakan dicicipi."
Wang Guodong menyesapnya sedikit dan memuji, "Sangat enak."
Wang Anran di sampingnya sudah terpaku karena takjub melihat tindakan Lu Beichen. Pria itu tampak sangat tampan. Dengan tatapan memuja, dia menatapnya, "Lu Beichen, kau hebat sekali."
Meskipun tidak paham seni teh, dia bisa melihat bahwa Lu Beichen sangat ahli dalam bidang ini.
Lu Beichen menyunggingkan senyum, memberikan cangkir kedua kepada Wang Anran, dan menjelaskan, "Kakek dan ayahku sangat suka minum teh. Aku terpengaruh oleh mereka dan belajar sedikit."
Wang Anran dengan hati-hati memegang cangkir dan menyesapnya sedikit. Aroma teh mengalir di lidahnya, rasa pahit yang disertai sedikit manis. Dia yang biasanya tidak suka teh, kini merasa ingin minum lagi.
Mereka bertiga mengobrol sambil menikmati teh. Wang Guodong tersenyum dan menasihati putrinya, "Ranran, nanti harus rukun dengan Xiao Lu. Jika kau berani bersikap manja di depan Xiao Lu, Ayah akan langsung menjemputmu pulang, mendidikmu sampai benar, baru akan mengembalikanmu pada Xiao Lu."
Wang Anran tidak bereaksi banyak, hanya bergumam menyanggupi.
Sebaliknya, urat di dahi Lu Beichen berkedut tak terkendali. Nasihat mertuanya itu bukan memperingatkan putrinya, melainkan peringatan untuk dirinya.
Jika berani menindas putri kesayangannya, sang ayah akan menjemput putrinya pulang, dan baru akan mengembalikannya setelah putrinya memaafkannya.
Lu Beichen menghela napas dalam hati. Benar saja, jahe semakin tua semakin pedas. Mertuanya yang memiliki posisi tinggi dan memegang kekuasaan nyata ini memang bukan orang sembarangan.
Dia melirik Wang Anran dan diam-diam merasa khawatir akan masa depannya selama beberapa detik.