Dua anak kucing kecil, ayo kita rekam acara makan!
“Aku bisa, tapi menolak bekerja lebih banyak.”
Anggapan bahwa yang mampu harus bekerja lebih banyak adalah kebohongan besar, sebuah tipu muslihat yang memperdaya, membuat orang rela bekerja keras dari pagi hingga malam, namun yang didapat hanyalah sakit leher, hernia tulang belakang, insomnia, depresi, bermimpi berlebihan, hingga berbagai penyakit kronis layaknya orang lanjut usia.
Belum lagi, justru karena sistem lembur yang tak manusiawi inilah, bulan lalu ia nyaris meregang nyawa di meja kerjanya. Untungnya, ia masih bisa diselamatkan.
Mengingat kejadian itu, Su Lianrong langsung melemparkan surat keterangan rumah sakit ke wajah Cui Niu.
“Dan satu lagi, jangan lupa cairkan kompensasi kecelakaan kerja karena aku hampir meninggal. Kalau kurang dari seratus juta, kita bertemu di pengadilan!”
Ini bukan kali pertama perusahaan itu mengalami kasus karyawan meninggal mendadak. Apalagi Su Lianrong akhirnya juga selamat. Para atasan bersikap dingin luar biasa terhadap hal semacam ini.
Waktu itu mereka hanya berbaik hati memberinya cuti berbayar beberapa hari, lalu memintanya kembali bekerja lembur seperti biasa, tanpa pernah membahas soal kompensasi.
Sekarang sudah memutuskan untuk berhenti, kompensasi tentu harus diterima utuh!
Melihat Su Lianrong benar-benar bulat hati untuk mengundurkan diri, wajah Cui Niu langsung berubah masam. Senyum ramahnya lenyap digantikan ancaman tajam:
“Su Lianrong, apa kau lupa sudah menandatangani perjanjian larangan kompetisi? Hidup di Kota Jing tidak mudah, pikirkan baik-baik!”
Perjanjian larangan kompetisi biasanya hanya untuk manajer atau karyawan teknis tertentu, tapi kini perusahaan mewajibkan semua karyawan menandatanganinya. Setelah keluar, selama setahun tak boleh bekerja di perusahaan serupa mana pun.
Dengan begitu, mereka benar-benar menutup seluruh jalan bagi karyawan biasa.
Menyadari hal ini, Cui Niu semakin bangga dan tak lagi menahan diri.
“Keluar dari sini, kau tak akan menemukan perusahaan sebaik dan seterkenal ini, apalagi dengan fasilitas yang bagus.”
“Haha, itu tak perlu kau pikirkan. Sekalipun aku harus berjualan sayur, penghasilanku pasti masih lebih baik daripada di perusahaanmu!”
Seluruh kekesalan yang ia telan selama lima tahun bekerja hari ini tumpah ruah dalam satu napas. Su Lianrong merasa lega luar biasa, berbalik hendak pergi, tapi di detik ia membuka pintu, ia teringat sesuatu lalu menoleh kembali.
“Dan satu lagi, pagi tadi yang memaki-maki kau itu bukan aku, tapi kucingku yang sudah tak tahan melihatmu, jadi dia sendiri yang bicara kasar padamu.
Bahkan kucing pun sudah tak sanggup melihatmu, Pak Cui. Kupikir kau sebaiknya introspeksi, kira-kira letak salahmu di mana?”
Selesai bicara, Su Lianrong menutup pintu dan pergi. Mendengar suara makian pria tua itu dari balik pintu, ia menghela napas panjang. Ia merasa bahkan benjolan di payudaranya akibat stres selama lima tahun bekerja langsung sembuh seketika.
Benar-benar lega!
Namun di balik satu pintu, para rekan kerja yang mendengar ucapan terakhir Su Lianrong hanya bisa melotot dan bungkam, kecuali Cui Niu yang marah besar.
Ia melontarkan caci maki di hadapan semua orang, lalu berkata meyakinkan:
“Karyawan pembangkang yang tidak patuh pada organisasi dan aturan seperti ini sudah sering kulihat! Tak ada satu pun yang berakhir baik! Akhir bulan nanti dia pasti tak tahan dan akhirnya sadar betapa baiknya perusahaan kita!
Tunggu saja, Su Lianrong pasti akan menangis meraung-raung minta kembali bekerja padaku!”
...
Meski Su Lianrong tak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan pria tua itu, ia bisa menebaknya.
Tak mau kalah, ia harus membuktikan diri! Tak boleh membiarkan orang seperti itu tertawa di atas penderitaannya!
Maka dalam perjalanan pulang, Su Lianrong langsung mulai merencanakan.
Ia menyewa apartemen loft kecil untuk hunian sekaligus usaha, jadi mengurus izin usaha rumahan pun tidak sulit.
Selain itu, kini ia punya kucing pintar di rumah yang bisa membantu jadi bintang iklan. Jika kucing itu tampil makan langsung di depan kamera, pasti akan menarik banyak pelanggan.
Tak pakai menunggu, Su Lianrong setiba di rumah langsung menggendong Naiyou, kucingnya yang melompat ke pangkuan, sambil membelai dan membahas rencana siaran langsung bersama kucing kesayangannya.
“Miaw mau siaran! Anak kucing mau cari uang buat nafkahin Mama!”
Dulu, saat ia belum dewasa, untuk segala urusan pengobatan, makanan, dan kebutuhan lain, Mama harus bersusah payah keluar rumah mencari uang. Sekarang, setelah tumbuh dewasa, sudah sepatutnya ia ikut bertanggung jawab mencari nafkah!
Sebagai kucing dewasa, sudah saatnya ia menopang hidup Mama!
Memikirkan itu, Naiyou langsung melompat ke meja, menggerakkan cakarnya membuka tablet, lalu dengan cekatan membuka aplikasi video pendek, menoleh pada Mama dengan mata berbinar:
“Aku sudah lama ingin jadi penyiar terkenal di kalangan kucing!”
Waktu Mama keluar rumah berburu uang rupiah, ia sendirian di rumah menonton video pendek. Meski tidak mengerti tulisan, ia sangat suka menonton video siaran kucing lain!
Padahal kucing-kucing itu tak secantik, sepintar, dan sehebat dirinya. Mereka asal mengeong saja di layar, sudah dapat banyak cinta dari manusia berkaki dua.
Sebagai kucing paling menawan, ia yakin bisa menaklukkan hati para manusia itu!
Mendengar keinginan Naiyou, Su Lianrong: ……
Setelah mengetahui anaknya bisa bicara, ia merasa setiap hari bisa terkejut tiga kali.
Karena Naiyou juga ingin, Su Lianrong langsung bertindak. Ia segera membuka aplikasi siaran langsung, mendaftarkan akun baru untuk penyiar pemula.
Nama pengguna: Naiyou Lianrong
Nama ruang siaran: Penyiar Naiyou dan Asisten Siaran Lianrong
Judul siaran: Mengejutkan! Kucingku bisa bicara seperti manusia! Memuji masakan kucing dan ikan kering buatanku enak sekali?!
Ia tak takut kucingnya bicara seperti manusia saat siaran, karena di zaman sekarang siapa yang tahu penyiar di seberang layar itu manusia atau anjing? Para penonton pun pasti tak percaya.
Mengetahui ia bisa bebas bicara layaknya manusia, Naiyou semakin bersemangat melompat ke sana ke mari, terus menyuruh Mama segera mulai.
“Miaw miaw! Aku mau jadi penyiar kucing, cari uang banyak!”
Su Lianrong hanya bisa tertawa geli, buru-buru menjelaskan aturan dan mengatur kamera, lalu menutupi wajahnya dengan efek wajah kucing sebelum membuka ruang siaran.
“Miaw miaw~ sudah mulai siaran?”
Melihat Mama mengangguk, Naiyou menjadi sedikit gugup, menapakkan cakar dengan rapi, menutupi dirinya dengan ekor, lalu berkata manis:
“Halo manusia berkaki dua, namaku Naiyou, ayo beli masakan kucing dan ikan kering buatan Mama! Harum sekali! Paling enak sedunia!”
Di siaran pertamanya, Naiyou memang tampak tegang, tetapi begitu melihat di depan matanya sudah ada semangkuk nasi salmon, ia langsung berubah jadi ‘alat berat’. Ia melompat ke mangkuk dan makan dengan lahap seolah sudah tiga hari tak makan.
Miaw miaw miaw!
Satu suapan lauk, satu suapan sayur, Mama bilang itu paling bernutrisi!
Naiyou makan dengan gembira, dan saat itu juga beberapa penonton mulai masuk ke ruang siaran.
[Kucing belang tiga ini cantik sekali, bulunya bersih, warnanya merata, benar-benar memikat hati!]
[Lihat kucing ini makan saja sudah bikin ngiler, memang khusus dibuatkan makanannya oleh pemiliknya ya?]
[Aku paling suka siaran kucing makan. Langsung follow!]
Setelah menghabiskan satu mangkuk besar, Naiyou tak lupa tugas utamanya: membantu Mama cari uang!
“Sertifikasi anak kucing: masakan Mama benar-benar harum dan enak! Ada ikan kering juga! Anjing bodoh di sebelah pun suka makan! Ayo beli!”
[!!! Astaga, kucingnya bicara seperti manusia?]
[… Astaga! Baru saja hampir kukira kucing sungguhan bisa bicara. Jangan-jangan ini manusia yang menyamar jadi kucing? Efek visual zaman sekarang sekeren itu ya?]
[Mungkin saja sulih suara. Baru siaran pertama sudah jualan, tidak suka!]
[...Kucing buatan AI? Padahal aku lagi asyik nonton, tiba-tiba begini malah nggak seru, out.]
[Out satu lagi]
Baru saja ada belasan penonton masuk, separuh lebih langsung keluar. Naiyou, si kucing yang tak paham tulisan, hanya bisa menatap Mama dengan sedih karena sudah berusaha promosi keras tapi tak ada yang membeli.
“Miaw miaw, kenapa mereka tak mau beli makanan? Padahal masakan Mama harum sekali!”
Su Lianrong menggendong si kucing dan menenangkan:
“Tak apa, mereka bukan tak percaya makanan Mama enak, tapi mereka tak percaya kamu benar-benar kucing.”
“Tapi aku memang kucing! Kucing tak suka bohong. Yang suka bohong itu anjing!”
Naiyou tak paham, mengibaskan ekor panjangnya, cemas berkata:
“Kenapa kalian meragukan aku bukan kucing sungguhan? Aku bisa melakukan banyak hal! Aku bukan hanya bisa bicara, aku juga piawai menangkap tikus!”
Cuma Mama saja yang tidak suka makan tikus...
[Bodoh Bulu: Aku tidak percaya, mana ada kucing sepintar ini! Kalau berani, tangkapi tikus di rumahku, baru aku percaya kamu benar-benar kucing!]
Sebagai asisten siaran, Su Lianrong segera menerjemahkan. Naiyou pun langsung mengangguk serius:
“Oke, oke, itu keahlianku! Tapi kamu harus bayar!”
Jualan masakan dapat uang, menangkap tikus pun dapat uang, kucing tak boleh melewatkan satu pun kesempatan mencari nafkah untuk Mama!
[Bodoh Bulu: …Gimana caranya kamu siaran langsung menangkap tikus di rumahku? Pakai kekuatan pikiran?]
Setelah berdiskusi, Su Lianrong menjawab di kolom komentar:
“Halo, penonton. Katanya kucingku bisa terhubung denganmu lewat siaran langsung, mengirim ‘guru kucing’ ke rumahmu untuk menangkap tikus.”
[!!! Masa bisa begitu?]
[??? Kayaknya mulai seru nih, masih belum yakin, aku tonton dulu deh.]
[Serius? Aku nggak banyak baca buku, jangan nipu ya, Penyiar.]
Obrolan makin ramai. Setelah terhubung, Su Lianrong melihat di layar seorang pria dua puluhan melambaikan tangan dengan ragu:
“Penyiar, kamu serius bisa bantu aku panggil kucing untuk menangkap tikus? Aku kasih tahu, tikus di selatan sini besar-besar sekali!”
Ia pun mulai bercerita panjang lebar.
Ia adalah perantau dari utara ke Kota Guang, tak menyangka kecoa di sini besar macam Jerry, tikusnya malah seukuran kelinci!
Tikus itu sudah berhari-hari berkuasa di rumahnya, ia sendiri tak berani mengusirnya!
“Kalian tak tahu, beberapa hari ini aku hidup penuh ketakutan, sampai-sampai ingin sembahyang ke leluhur, minta bantuan agar tikus itu pergi!”
[Benar, di selatan ukuran Jerry segitu memang biasa, pelihara saja, nanti jinak kok wkwk]
[Kamu belum tahu kecoa yang bisa terbang, aku orang utara saja nangis ketakutan lihatnya!]
[Tapi buat apa sembahyang? Kenapa nggak pinjam kucing saja?]
“Jangan salah, di rumahku memang ada kucing anggora, tapi sekarang dia malah bersembunyi di kolong tempat tidur, tak berani keluar.”
Sampai di sini, Li Lin di seberang layar pun setengah geli setengah putus asa.
“Aku bahkan sudah pinjam kucing oranye dari tetangga, eh, si kucing gendut itu malah makan semua camilan kucingku, bukan tangkap tikus!”
[Hahaha, kasihan sekali karyawan ini]
[Kamu berharap anggora bisa tangkap tikus?! Itu sama saja minta gadis lemah menebang pohon beringin!]
Li Lin akhirnya pasrah, menyatukan tangan di depan kamera dan membungkuk:
“Tak peduli kamu manusia atau kucing, pokoknya kalau bisa bantu tangkap tikus, aku pasti sungkem padamu!”
“Tak perlu sungkem, yang penting bayar. Manusia baik itu yang tidak lari dari kewajiban!”
[…Tiga kalimat tak pernah lupa soal uang, kucing sejati tak se-materialistis itu, pasti manusia yang pura-pura jadi kucing!]
[Tapi idenya kreatif juga, like!]
[Haha, aku mau lihat gimana caranya penyiar ini menyelesaikan masalah!]
Saat itu, Naiyou mendadak berdiri. Ia mengeong keras beberapa kali, lalu dengan santai berbaring dan menjilati bulunya:
“Selesai, tunggu sebentar. Kucing yang kupanggil sebentar lagi sampai.”
[? Benaran nih?]
[Sudah lima menit, kok belum datang juga?]
[Penyiar ini jangan-jangan penipu? Nggak bisa menyelesaikan masalah, ya?]
Lima menit pun berlalu, Li Lin dan para penonton mulai gelisah.
Walau tak mengatakan secara langsung, Li Lin dalam hati juga mulai ragu.
Bagaimana ia bisa percaya begitu saja, hanya karena siaran langsung ada kucing virtual yang katanya bisa memanggil kucing lain untuk menangkap tikus?
Kucing memesan jasa kucing lain? Terlalu konyol untuk dipercaya.
Tapi tiba-tiba, Li Lin mendengar suara mengeong keras di depan pintu rumahnya.
Miaw miaw! Miaw miaw!